Selasa, 21 Juli 2009

You just gotta stop.....

Ada beberapa temen gue, yang merasa kurang beruntung karena di lahirkan ditengah keluarga yang tidak seperti mereka inginkan. Ada beberapa yang menurut gue, memang benar punya keluarga yang kurang men-support anaknya. Padahal anaknya luar biasa berbakat. Akhirnya memang itu membuat kepribadian temen-temen gue berubah. Menimbulkan banyak sekali negativity. Bukan sifat loh yang gue maksud, tapi pikiran. Ya paranoid, ada yang jadi grumpy, ada yang jadi ngerasa nggak bahagia, ada yang emang susah banget dibikin bahagia.

Ada beberapa yang akhirnya, hobi banget nulis status di Facebook mereka tentang sesuatu yang sangat-sangat negatif. Ya marah-marah lah, mengumpat, segala macem deh. Emang nggak ada masalah juga sih. Apalagi itu fb juga punya dia. Gue bukannya nggak pernah marah-marah di fb gue, tapi nggak setiap saat juga gue marah-marah. Nggak setiap saat gue mengumpat. nggak setiap saat gue memaki.

Ada yang sangking seringnya ganti status, negatif pula, jadi pas kalau gue buka home gue, bisa isinya dia semua, negatif lagi.

Begini loh, menurut gue, memang bener nggak perlu kita tahan segala amarah, kalo kata nyokap gue bisa jadi kanker. Tapi untuk ngelepasinnya pun menurut gue memang harus ada aturannya juga. Masalahnya gini, dengan sebegitu banyak jumlah negativity yang kita keluarkan di depan orang, otomatis akan memberikan dampak yang negatif juga ke kita. Kalau kita seharian main fb, dan status kita negatif terus, kita akan baca terus itu status. Because it's still gonna be right there, until you change it. Nah masalahnya kalo diganti sama yang negatif juga, sama aja dong berarti. Itu namanya bukan melampiaskan tapi menyimpan.

Belum lagi kalau komentar orang malah mendukung kita untuk menyimpan ke-negatifan itu.. makin lama aja.

Buat gue, untuk melampiaskan aura-aura negatif gue, nggak bisa ke semua orang. Karena kalau gue, kepada siapa atau apa gue melampiaskan aura negatif gue, harus bisa diberikan feed-back yang menetralisir. Itulah kenapa berat untuk menjadi pacar gue. hehehehe....

Karena percuma kalau lo dah setengah idup ngeluarin aura negatif lo, tapi lo nggak jadi tenang. Konsepnya marah-marah kalau buat gue adalah supaya seseorang tau dia salah dan supaya mengeluarkan emosi biar gue lebih tenang. Bukan supaya gue puas. Karena kalau ada seseorang melakukan kesalahan dan gue marahin hanya supaya gue puas, wah kayaknya gue kedengeran seperti anak ABG lagi mau tawuran ya...


akibat kebanyakan mengeluh

Nah terus lagi, menurut gue, kita masing-masing harus belajar gimana caranya membangun pikiran positif sendiri. Ada nggak ada yang netralisir, kita harus bisa menetralkan sendiri. Entah dengan diam atau dengan ngapain gitu. Masalahnya nggak selamanya kita ada temennya pas lagi butuh. Pada saat banyak pikiran negatif, belum tentu selalu ada hal yang menyenangkan di sekitar kita. Jadi kita perlu menciptakan itu sendiri. Toh nggak ada yang kenal kita lebih dari kita sendiri.

Kadang gue bingung dengan orang yang mengeluh terus tentang hidupnya, tentang kesusahannya. Lo mau ngeluh sampe harimau putih berubah jadi pink juga percuma. Nggak bakalan berubah, Kecuali lo bergerak dan melakukan sesuatu. You gotta be able to look at the bright side in every problem you have. Dan liat, masih banyak orang yang punya masalah lebih besar. Being grumpy is a very selfish and childish thing to do. You just gotta stop and be gratefull. Bersyukur. Dan senyum.


smile more often

Daripada lo tulis di status fb lo makian terus diganti keluhan terus, diganti makian lagi, malah makin bikin lo makin stress, mendingan lo bikin status fb yang panjang isinya makian plus keluhan plus komplit deh, pajang selama 1 hari full, tapi hari berikutnya langsung lo ganti dengan bahagia. Dan please deh, ganti cara berpikir bahwa marah itu supaya puas, supaya orangnya ngerasain atau supaya ngebales... What are you... 12?

Ayo berhenti menyebarkan negativity.... dan mulai menyebarkan sesuatu yang lebih baik... seperti senyuman and happy thoughts..... For your own good....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar