Jumat, 14 Agustus 2009

Trauma...

Pagi ini, begitu bangun tidur, langsung disambut sama acara gossip di TV (gue emang selalu tidur dengan TV nyala). Gue sebenernya sih bukan seorang penikmat gossip. Tapi pagi ini, apa yang ditayangkan di TV itu sangat menyita perhatian gue. Berita tentang Marshanda dan video-nya yang beredar ramai di Internet.

Marshanda, seorang artis muda Indonesia, sempet naik daun luar biasa dan pewaris bisnis hotel lokal yang lumayan besar juga. Dia mengekspresikan diri dengan teriak-teriak dan bernyanyi sambil menangis. Mencurahkan perasaannya di internet tentang traumanya dan segala sakit hatinya terhadap mantan dan teman-teman SD nya.



I feel so sorry for her. Menurut apa yang suka gue liat selintas di TV dulu-dulu, dia seorang yang sangat dewasa untuk anak seumuran dia. Dan prestasinya di layar kaca pun lumayan gemilang. Setiap kali dia di wawancara selalu bisa muncul dengan jawaban tegas dan sangat firm. Gue nggak nyangka dia ternyata sangat tertekan.

Di berita itu dibilang dia memiliki trauma terhadap perceraian orang tuanya. Dan juga dendam terhadap teman-teman dan mantannya. I could see that she's been hurt inside. Oleh apa gue nggak tau.

Gue jadi berfikir, ini memang bukan kesalahan siapa-siapa. Bukan salah orang tuanya, bukan juga salah anaknya. Perceraian memang sesuatu yang real terjadi. Nggak mungkin seseorang yang memang sudah nggak tahan sama masalah rumah tangganya terus disuruh bertahan terus menjalani itu. Manusia bebas memilih jalan hidupnya. Tapi mungkin yang harus diperhatiin sama orang tua yang bercerai, gimana anak itu berkembang. Apalagi di masa remaja, masa paling rentan. Paling lemah. Paling labil.

Emang nggak harus diintilin terus kemana anak kita pergi, tapi paling nggak bener-bener diawasin. Dan gue rasa pembatasan juga harus ada deh. Jangan atas nama memberi kebebasan semuanya diperbolehkan. Karena walaupun keliatan kuat, gue yakin bahwa kebanyakan anak2 yang dari broken home family, lebih labil dari yang lain. Nggak bisa dipungkirin, bahwa seorang anak yang ditinggal orang tuanya bercerai (bukan meninggal loh ya) butuh perhatian yang lebih. Karena mereka pasti akan mulai membandingkan diri dan teman2nya. Gue ngerasain banget itu sama diri gue. Untung gue punya keluarga yang bantu gue 24/7. Kalau memang mampu, pergi ke seorang psikolog anak juga bagus. Bukan karena kita rasa anak kita bakalan stres atau apa gitu, tapi itu sangat baik juga untuk kita supaya kita juga kenal sama anak kita dan kita tau bagaimana menghandle dia. Jadi kita nggak perlu menghadapi hal yang nggak perlu kita hadapin. Apalagi seiring dengan waktu anak-anak kita pasti akan mengalami masalahnya sendiri.

Well, i'm not an expert on this, tapi menurut gue Marshanda is extremely overloaded. Dengan masalah-masalahnya, kariernya, dan trauma-traumanya. Dan orangtuanya mungkin dengan segala masalahnya nggak terlalu tau gimana caranya menghandle anak-anak dengan trauma, atau bahkan dia nggak tau kalo anaknya trauma. Jangan sepelekan trauma masa kecil, karena itu bisa terbawa sampai tua. 1 trauma kecil aja bisa mengakibatkan banyak hal negatif.


Cepet sembuh Marshanda....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar